Penyandang disabilitas mental adalah ODMK atau Orang Dengan Gangguan Jiwa yang dalam jangka waktu lama mengalami hambatan dalam interaksi dan partisipasi di masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya disingkat ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Orang Dengan Gangguan Jiwa yang selanjutnya disingkat ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Permasalahan gangguan jiwa menurut Undang-Undang Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014 merupakan permasalahan yang berkaitan dengan gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku. Permasalahan gangguan jiwa dapat dialami oleh siapa saja, dan dapat menimbulkan beban tidak saja bagi penyandangnya tetapi juga bagi keluarganya, apabila tidak mendapatkan penanganan secara tepat.

Masalah gangguan jiwa dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, di antaranya:

  1. Faktor biologis seperti penyakit fisik kronis, penyakit fisik yang mempengaruhi otak dan penyalahgunaan Napza.
  2. Faktor psikologis seperti pola adaptasi, pola penyelesaian masalah, pola mekanisme pertahanan diri dan pola kepribadian.
  3. Faktor sosial spiritual seperti pola relasi, sistem dukungan, situasi khusus/krisis, tantangan/tugas – tugas dan stresor atau pemicu.

PDM sering kali mengalami masalah yang kompleks. Bukan saja masalah yang terjadi di dalam dirinya seperti halusinasi, waham dan sebagainya, namun yang lebih memperparah permasalahan adalah yang berasal dari luar, yaitu lingkungan sosialnya. Seorang PDM akan mengalami kondisi yang lebih parah atau kekambuhan yang sering apabila lingkungan tidak memberikan dukungan dan rawatan yang dibutuhkan.

Gangguan skizofrenia

Gangguan skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang penyandangnya paling sering mengalami pemasungan. Lebih dari 90% PDM yang mengalami gangguan jiwa ini. Gangguan skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang mudah dikenali dan berisiko untuk melakukan tindakan kekerasan akibat dari gejalanya. Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang memiliki sifat dapat kambuh, menahun, dan bila kekambuhan semakin sering terjadi maka orang dengan skizofrenia (disingkat ODS) akan mengalami penurunan fungsi yang semakin berat.

Saat sakit, gangguan yang dialami meliputi :

  1. Gangguan perasaan

    Gangguan perasaan yang timbul sangat bervariasi mulai dari emosi yang meningkat, meledak-ledak hingga emosi yang kosong, tanpa ekspresi. Respon emosi yang diekspresikan juga bervariasi, bisa luas, menyempit, hingga mendatar tanpa ekspresi, termasuk bisa sesuai namun bisa pula tertawa geli atau tanpa kendali, tanpa alasan yang jelas dan tidak sesuai dengan konteks.

  2. Gangguan perilaku

    ODS (Orang Dengan Skizofrenia) kronis cenderung tidak memperhatikan penampilannya, tidak mampu merawat diri, tidak menjaga kerapian, tidak menjaga kebersihan dirinya dan menarik diri secara sosial.

  3. Gangguan persepsi

    ODS mengalami gangguan dalam sensasi dari panca inderanya, seperti kesalahan persepsi tanpa ada stimulus yang nyata (halusinasi), kesalahan persepsi yang timbul terhadap stimulus yang nyata (ilusi), mengalami atau merasa bahwa dirinya tidak nyata, berubah bentuk, atau asing (depersonalisasi), perasaan subyektif bahwa lingkungan sekitar berubah, tidak nyata, atau asing (derealisasi).

  4. Gangguan pikiran

    Gangguan pikiran yang dialami oleh ODS meliputi gangguan pada proses pikir dan isi pikir. Gejala yang biasanya dilaporkan oleh keluarga atau masyarakat diantaranya: “bicara ngaco (kacau)”, “bicara muter – muter”, “bicara ketinggian”, “nggak nyambung”, atau “kesambet”. Gangguan isi pikir yang utama adalah waham, yaitu keyakinan salah yang tidak sesuai dengan fakta, budaya, agama, nilai – nilai, dan status pendidikan, namun tetap dipertahankan walaupun telah diberikan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya.

  5. Gangguan motivasi dan neurokognitif

    Di samping gejala – gejala yang telah diuraikan di atas, skizofrenia juga memiliki gejala lain yang berhubungan dengan motivasi dan kognitif (kemampuan berpikir). Gejala yang berhubungan dengan motivasi diantaranya tidak memiliki minat atau kehendak, tidak berkegiatan, dan tidak mampu menata rencana sehingga menimbulkan disorganisasi. Sementara gejala yang berhubungan dengan gangguan kognitif adalah gangguan konsentrasi/atensi, gangguan memori terutama memori jangka segera/pendek, dan menurunnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Gejala-gejala pada gangguan skizofrenia sering mengakibatkan ODS tampil dalam kondisi gaduh gelisah hingga berisiko untuk melakukan kekerasan dan sulit dipahami sehingga sulit untuk dibantu. Kondisinya yang sering terlambat dikenali sehingga terkesan terjadi tiba-tiba, berpotensi untuk disalahartikan sebagai bagian dari proses budaya dan spiritual, dianggap kesurupan, kemasukan roh/jin, keberatan nama/ilmu, bahkan tidak jarang pula dianggap sakti oleh keluarga dan masyarakat.

Gangguan Jiwa Lainnya dengan Perilaku Gaduh Gelisah dan Kekerasan

Berisiko untuk mengalami gejala perilaku yang berupa gaduh gelisah dan kekerasan bukanlah monopoli gangguan skizofrenia. Gaduh gelisah dapat diartikan sebagai kumpulan gejala agitasi yang ditandai dengan perilaku yang tidak biasa, meningkat, dan tanpa tujuan. Tidak harus berkaitan namun dapat menjadi gejala awal dari perilaku agresif yaitu agresivitas verbal maupun gerak/motorik namun tidak ditujukan untuk mencederai seseorang (contoh: mengumpat, melempar atau merusak barang) dan perilaku kekerasan yaitu perilaku yang ditujukan untuk mencederai baik dirinya maupun orang lain (memukul, melukai diri, atau membunuh).

  1. Gangguan Demensia

    Demensia merupakan kumpulan gejala akibat gangguan pada struktur otak yang bersifat menahun, menurunkan fungsi dan mengganggu kegiatan sehari-hari akibat penurunan fungsi luhur (kognitif), termasuk daya ingat/memori (kesulitan mengingat hal-hal yang baru dipelajari bahkan dalam kondisi yang lebih berat, ingatan sebelumnya juga hilang), konsentrasi, orientasi, kemampuan memahami, mengidentifikasi risiko dan konsekuensi (berpikir kritis, menyusun rencana), berhitung, kemampuan belajar, dan berbahasa, yang berdampak pada kemampuan pengendalian emosi, perilaku sosial atau motivasi.

    Problem perilaku dan psikologik yang sering ditemukan pada orang dengan demensia diantaranya gangguan persepsi, proses pikir, suasana perasaan dan perilaku yang sering disalahartikan sebagai skizofrenia.

  2. Gangguan Penyalahgunaan Zat (NAPZA)

    Gangguan penyalahgunaan zat berhubungan dengan dua kondisi utama, yaitu intoksikasi dan putus zat.

    Intoksikasi adalah kumpulan gejala akibat penyalahgunaan zat yang mempengaruhi satu atau lebih fungsi mental berupa: memori, orientasi, mood, perilaku, sosial dan pekerjaan. Intoksikasi dapat menimbulkan gangguan kesadaran, kognisi, persepsi, perasaan atau perilaku yang secara klinis bermakna.

    Gejala Putus Zat (Withdrawal) adalah kumpulan gejala yang terjadi setelah menghentikan atau mengurangi penggunaan zat psikoaktif, sesudah penggunaan berulang kali yang berlangsung lama dan/atau dalam jumlah yang banyak dengan keluhan yang sesuai karakteristik zat psikoaktif tertentu.

  3. Gangguan Afektif Bipolar

    Gangguan jiwa ini bersifat episodik, dapat kambuh, namun berpotensi baik untuk penyembuhan cepat bila mendapatkan tata laksana yang adekuat dan segera. Namun bila tidak, dapat berdampak besar untuk timbulnya kematian.

    Gangguan ini terutama berhubungan dengan gejala suasana perasaan gembira berlebihan (manik), hipomanik, sedih berlebihan (depresi), atau campuran dua kutub emosi dalam satu episode. Disebut sebagai gangguan bila gejala manik berlangsung minimal satu minggu, atau empat hari untuk gejala hipomanik, atau dua minggu untuk gejala depresi dan mengakibatkan gangguan aktivitas serta fungsi sehari-hari.

    Dalam kondisi yang berat, dapat disertai gejala psikotik, risiko bunuh diri, maupun risiko melukai orang lain. Kondisi tersebut tentu saja membutuhkan perawatan yang lebih intensif.

    Risiko lain dalam kelompok gangguan ini adalah penyalahgunaan obat, zat, dan alkohol yang berujung pada perilaku berisiko lainnya seperti seks bebas.

  4. Retardasi Mental

    Gangguan ini ditandai oleh kurangnya kemampuan mental dan keterampilan yang diperlukan seseorang untuk menjalankan kehidupan termasuk menyelesaikan masalah, ditandai dengan gangguan pada keterampilan pada beberapa area perkembangan (seperti kognitif, bahasa, motorik, dan sosial) selama periode perkembangan.

    Ciri utamanya adalah ketidaksesuaian usia kemampuan yang dimiliki dengan usia sesungguhnya. Sebagai contoh, seorang anak memiliki kemampuan yang sesuai untuk anak umur di bawah tiga tahun, padahal usia sesungguhnya anak tersebut adalah lima tahun. Kondisi ini mengakibatkan keterbatasan fungsi intelegensia (penyelesaian masalah) dan fungsi perilaku adaptif (penyesuaian diri).

  5. Gangguan Perilaku pada Anak dan Remaja

    Gangguan perilaku pada anak dan remaja yang dapat menyebabkan perilaku gaduh gelisah, agresif, dan kekerasan diantaranya adalah gangguan perilaku menentang, gangguan atensi yang berat dan hiperaktif, serta gangguan autisme.

Klasifikasi Gangguan Jiwa

Berdasarkan buku konsesus penatalaksanaan gangguan skizoprenia (PDSKJI, 2011), gangguan jiwa dapat diklasifikasikan pada tiga fase yaitu:

  1. Fase Akut

    PDM pada fase akut ditandai dengan:

    1. Gejala agitasi yang terlihat dari adanya ansietas yang disertai dengan kegelisahan motorik, peningkatan respon terhadap stimulus internal atau eksternal, peningkatan aktivitas verbal atau motorik yang tidak bertujuan. Agitasi juga bermanifestasi sebagai iritabilitas, tidak koperatif, ledakan kemarahan, sikap atau ancaman secara verbal, destruktif dan penyerangan fisik.
    2. Sensitifitas sosialnya menurun dan impulsifitasnya meningkat. Tindakan ini dapat disebabkan oleh adanya waham atau halusinasi yang berbentuk perintah yang menyuruh ODS melakukan tindakan tertentu.
    3. Perilaku agresif juga sering terlihat. Agresif merupakan sikap melawan secara verbal atau kekerasan fisik yang ditujukan kepada benda atau orang lain. Risiko terjadinya perilaku agresif meningkat bila ia berkomorbiditas dengan penyalahgunaan alkohol atau zat, kepribadian antisosial, tidak mempunyai pekerjaan, dan gangguan neurologi serta riwayat kekerasan sebelumnya.

    PDM yang berada pada fase ini harus segera mendapatkan penatalaksanaan yang tepat. Layanan yang dapat diberikan pada fase ini adalah melalui Rumah Sakit Jiwa atau Rumah Sakit Umum. Bentuk layanan yang diberikan adalah pemberian psikofarmaka yang optimal, mengurangi stresor sosial dan lingkungan, serta mengurangi stimulasi yang berlebihan.

  2. Fase Stabilisasi

    PDM pada fase stabilitasi ditandai dengan:

    1. PDM belum mampu mengelola gejala kejiwaannya dengan baik.
    2. PDM rentan terhadap pemicu kekambuhan (stresor).
    3. PDM membutuhkan pemantauan akan kepatuhan minum obat.

    Pada fase ini dilakukan pengobatan optimal yang berkelanjutan, edukasi pasien dan keluarga tentang gejala dan efek samping pengobatan, dan mulai membantu pasien untuk kembali pada fungsi psikososialnya yang optimal. PDM yang berada pada fase ini dapat ditangani secara khusus pada Rumah Antara untuk dapat dilatih dalam mengenali gejala-gejala, cara mengelola gejala, melatihkan kemampuan merawat diri, dan mengembangkan kepatuhan menjalani pengobatan.

  3. Fase Pemeliharaan

    PDM pada fase pemeliharaan ditandai dengan:

    1. PDM telah memenuhi syarat terhadap kepatuhan minum obat.
    2. Minim terhadap resiko kekambuhan atau stresor yang memicu kekambuhan.
    3. Siap mengikuti kegiatan rehabilitasi sosial dengan pemantauan berkala dari psikiatrik dan perawat kesehatan jiwa.

    Penyandang disabilitas yang berada pada fase ini dapat diberikan layanan melalui Panti Rehabilitasi Sosial (UPT/UPTD/LKS) dan berbasis masyarakat (UILS/POS REHSOS) untuk meningkatkan keberfungsian sosialnya.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami