Disabilitas sensorik adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

Penyandang disabilitas netra

  • Pengertian

    Ada beberapa pengertian tentang penyandang disabilitas netra, diantaranya adalah menurut Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI) sebagai salah satu organisasi perkumpulan penyandang disabilitas netra, menerangkan bahwa yang dimaksud penyandang disabilitas netra yaitu: mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) sehingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal dan dari jarak yang normal meskipun dibantu oleh kaca mata (kurang awas/low vision).

    Menurut kamus besar bahasa Indonesia: pengertian tunanetra ialah tidak dapat melihat, buta. Menurut Direktorat RSPD seseorang yang menurut hasil pemeriksaan medis/ahli tidak dapat menghitung jari-jari tangan dengan menggunakan indranya pada jarak satu meter didepannya.

    Sesuai dengan pengertian di atas, secara umum yang dimaksud dengan penyandang disabilitas netra adalah tidak berfungsinya indera penglihatan.

  • Faktor Penyebab

    Ada banyak faktor yang menyebabkan indera penglihatan seseorang terganggu, sehingga para tunanetra kehilangan fungsi indera penglihatannya. Penyebab seseorang mengalami disabilitas netra berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu : sebelum lahir, ketika proses kelahiran, sejak dilahirkan,ketika usia sekolah, ketika dewasa dan ketika lanjut usia. (baca: kenali penyandang disabilitas netra).

  • Tingkat Kemampuan Melihat

    Penyandang disabilitas netra berdasarkan tingkat kemampuannya untuk melihat yaitu: penyandang disabilitas netra ringan (defective vision/low vision), yakni mereka yang memiliki sedikit gangguan penglihatan, penyandang disabilitas netra sedang (partially sighted), yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan,penyandang disabilitas netra berat (totally blind).

  • Aspek Fisik

    Penyandang disabilitas juga mempunyai gejala-gejala fisik (dapat terlihat) seperti: mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, mata infeksi, gerakan mata tak beraturan dan cepat, mata selalu berair, pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata dan lain lain.

  • Aspek Psikis

    Penyandang disabilitas netra dari segi psikisnya, dapat terlihat dari yaitu:

    1. Mental/intelektual atau kecerdasan

      Pada umumnya penyandang disabilitas netra dari segi intektual tidak berbeda dengan orang yang tidak penyandang disabilitas netra. Kecenderungan IQ penyandang disabilitas ada yang IQ nya tinggi dan ada yang IQ nya rendah, jadi ada penyandang netra yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar. Penyandang disabilitas netra juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.

    2. Hubungan sosial

      Faktor orang tua, anggota keluarga yang lain dan lingkungan di sekitar penyandang disabilitas seperti di sekolah dan di masyarakat sekitarnya yang tidak siap menerima kehadiran penyandang disabilitas sehingga muncul berbagai masalah seperti diasingkan, diejek dan lain-lain.

      Akibat dari keterbatasan penglihatannya untuk menerima perlakuan orang lain terhadap dirinya, sehingga penyandang disabilitas netra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian seperti: curiga terhadap orang lain, perasaan mudah tersinggung, ketergantungan kepada orang lain dan kurang percaya diri.

    Penyandang disabilitas netra juga mempunyai karakteristik yang positif seperti: pemberani, berpikir kritis, dan suka berfantasi.

    Karakteristik penyandang disabilitas netra yang positif tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas netra sendiri untuk mengatasi permasalahannya sehingga dapat meminimalisir karakteristik yang merupakan kekurangan pada diri penyandang disabilitas netra.

Penyandang disabilitas rungu, wicara dan rungu wicara

  • Pengertian

    Disabilitas Rungu : berhubungan dengan kerusakan alat dan organ pendengaran yang menyebabkan kehilangan kemampuan menerima atau menangkap bunyi atau suara.

    Disabilitas Wicara : berhubungan dengan ekrusakan atau kehilangan kemampuan berbahasa, mengucapkan kata-kata, ketepatan dan kecepatan berbicara serta produksi suara. Ciri-cirinya:

    • Tidak dapat memproduksi suara atau bunyi
    • Kurang atau tidak menguasai vocabulary (perbendahraan kata)
    • Gagap
    • Berkomunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh atau simbol

    Disabilitas Rungu Wicara : yaitu ketidakmampuan dalam memproduksi suara dan berbahasa yang disebabakan karena kerusakan alat dan organ pendengaran sehingga anak tidak mengenal cara mempergunakan organ bicara dan tidak mengenal konsep bahasa.

  • Faktor Penyebab

    Asal mula seseorang menjadi penyandang disabilitas rungu wicara (PDRW) adalah:

    1. Sebelum anak dilahirkan (Pre Natal), contohnya: karena ada dari keluarganya yang PDWR (faktor keturunan/ Hereditas), ketika pada saat ibu mengandung menderita sakit cacar air atau campak (Rubella), dan lain sebagainya
    2. Saat dilahirkan (Natal) contoh: anak yang lahir sebelum waktunya (pre matur), anak yang lahir menggunakan alat bantu tang (Forcep) dan lain sebagainya.
    3. Sesudah dilahirkan (Pre Natal), contoh: terjadinya infeksi pada bagian organ pendengaran, peradangan di selaput otak (Minginitis) dan lain sebagainya.

    Berdasarkan tempat kerusakan pada telinga dibagi dua macam : kerusakan pada telinga luar dan telinga tengah atau yang sering disebut bagian konduktif yang mengakibatkan menjadi tuli konduksi, dan yang kedua adalah pada bagian telinga dalam yang menyerang pada bagian sensori neural yang mengakibatkan kerusakan pendengaran pada bagian persepsinya atau yang sering disebut tuli sensoris.

  • Tingkat Kemampuan Mendengar

    Tingkat kelainan ketunarunguan dapat dibagi menjadiPenyandang disabilitas rungu sangat ringan (0-25 dB), ringan (30-40dB), sedang (40-60 dB), berat (60-70 dB), tuli total (deatfness) (diatas 70 dB- sampai ketingkat benar benar tidak mendengar sama sekali).

  • Kemampuan Bahasa

    Berdasarkan taraf penguasaan bahasa ketunarunguan dibagi menjadi dua, yaitu tuna rungu pra bahasa dan purna bahasa. Ketunarunguan pra bahasa adalah ketunarunguan yang terjadi pada mereka yang mengalami tuna rungu ketika belum terkuasainya bahasa. Sedangkan tuli purna bahasa adalah ketunarunguan yang terjadi setelah mereka mengenal bahasa dan telah menguasainya dan telah menerapkannya dalam kehidupannya yang berlaku dilingkungannya.

    Kemampuan berbahasa pada PDRW berpengaruh pada: sangat sedikitnya kosa kata yang bisa diucapkan atau dimengerti, sulit mengartikan ungkapan-ungkapan yang mengandung kiasan, sulit mengartikan kata- kata abstrak kurang menguasai irama dengan gaya bahasa. Dari ketunarunguan tersebut menjadi hambatan bagi PDRW dalam pendidikannya, yaitu: mengalami kesulitan dalam menerima segala macam rangsang atau peristiwa bunyi yang ada di sekitrnya. Kedua, akibat kesulitan menerima rangsang bunyi mengakibatkan PDRW akan mengalami kesulitan pula dalam memproduksi suara atau bunyi bahasa yang terdapat di sekitarnya. Atas dasar itulah PDRW yang belum terdidik dengan baik, tampak pada dirinya seperti pendiam, kurang komunikatif dan sibuk dengan dirinya sendiri.

    Untuk membantu PDRW dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, perlu adanya bahasa isyarat yang dapat dimengerti oleh PDRW dan lingkungan sekitarnya dan menggunakan Alat bantu Dengar (ABD), serta peran keluarga dan masyarakat dalam memberikan peluang PDRW dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami