Disabilitas bukan berarti tidak berdaya…
Kemungkinan = tidak terbatas.…
Kualitas hidup, kesempatan bekerja dan pendidikan adalah tidak terbatas… Hambatan bukan terletak pada individu…
Hambatan untuk berpartisipasi sebenarnya berada pada lingkungan dan bagaimana sistem lingkungan dirancang…
Kita berharap pada suatu hari advokasi untuk penyandang disabilitas sudah tidak dibutuhkan lagi karena sudah dipahami oleh masyarakat…

Penyandang disabilitas saat ini berjumlah 15,6% (WHO) dari populasi dunia menjadikannya minoritas terbesar dan paling tidak beruntung di dunia . Sekitar 82 persen dari penyandang disabilitas berada di negara-negara berkembang serta kerapkali menghadapi hambatan sosial, ekonomi dan budaya yang membatasi akses mereka terhadap partisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat, termasuk pembangunan ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan layanan kesehatan. Bahkan, perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas memiliki kemungkinan 4 sampai 10 kali lebih mungkin mengalami kekerasan berbasis gender daripada mereka yang bukan penyandang disabilitas.

Mengikutsertakan penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari dan mengajak atau memberanikan mereka agar mempunyai peran yang sama dengan rekan sebayanya yang bukan penyandang disabilitas dalam aspek sosial, ekonomi dan budaya adalah sebuah inklusi disabilitas. Mengikutsertakan adalah lebih berarti jika dibandingkan dengan mengajak, karena hal tersebut membutuhkan kebijakan dan praktik yang memadai yang memberikan efek di masyarakat.

Paradigma yang berkembang pada saat ini adalah human right concept (konsep hak asasi manusia), dimana inklusivitas membawa konsep individu kepada konsep komunitas dan masyarakat. Ketika berbicara tentang inklusif, berarti kita berbicara tentang seluruh aspek kehidupan komunitas. Inklusi adalah istilah yang digunakan oleh penyandang disabilitas dan para pegiat hak-hak penyandang disabilitas yang menegaskan sebuah gagasan bahwa setiap orang harus secara bebas, terbuka dan tanpa rasa kasihan memberikan kemudahan atau akomodasi kepada penyandang disabilitas, tanpa penolakan dan atau hambatan apapun dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Konsep inklusi ditekankan pada desain universal untuk kebijakan yang berorientasi pada isu aksesibilitas fisik, seperti kemudahan pada stuktur bangunan dan penghilangan hambatan untuk memudahkan gerak penyandang disabilitas, namun bagian terbesar dan terluas dari tujuan iklusi adalah mentransformasikan secara kultural. Mentransformasikan secara kultural berarti keseluruhan masyarakat, akses fisik, dan sikap sosial, harus ada dalam desain universal tersebut, sehingga mengakhiri marginalisasi fisik dengan mengakhiri gagasan bahwa tubuh yang berbeda adalah tidak mampu mengelola atau memberdayakan diri sendiri. Karena pada dasarnya, stigma masyarakatlah yang selama ini menghambat penyandang disabilitas dalam mengaktualisasikan dirinya.

Sebagaimana yang telah disebutkan, inklusi penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari adalah termasuk praktek dan kebijakan yang didesain untuk mengidentifikasi dan menghilangkan hambatan seperti fisik, komunikasi dan attitudinal yang menghalangi kemampuan individu untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat, selain itu inklusi juga termasuk hak penyandang disabilitas untuk memperoleh perlakuan yang sama dari orang lain (non diskriminasi) yang berarti, masyarakat harus mengerti hubungan antara bagaimana cara orang berfungsi/beraktivitas dan bagaimana mereka berpartisipasi dalam masyarakat serta meyakinkan bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di dalam setiap aspek kehidupan sesuai dengan kemampuan dan hasratnya dan tentu saja menghilangkan pandangan bahwa penyandang disabilitas adalah orang yang tidak sehat dan tidak mampu melakukan apapun (stigma, stereotip) yang merupakan bagian terbesar tujuan inklusi.

Dengan dipahaminya paradigma baru oleh masyarakat, inklusivitas memiliki harapan untuk memimpin penyandang disabilitas menuju partisipasi dalam peran dan aktivitas sosial yang diharapkan seperti menjadi seorang siswa, anggota masyarakat, pekerja, bahkan sebagai orang tua. Aktivitas sosial yang diharapkan tersebut juga termasuk dalam hal menggunakan fasilitas umum seperti transportasi dan perpustakaan, bergerak di dalam komunitas, menerima perawatan kesehatan yang memadai, mempunyai hubungan khusus dengan lawan jenis dan menikmati aktivitas sehari-hari.

Sedikit cerita mengenai kisah inklusif di Amerika Serikat, di beberapa arsitektur yang tua dari kota-kota membuat penyesuaian struktural untuk penyandang disabilitas menjadi mahal dan tidak praktis, yang secara tidak langsung mengarah pada permusuhan yang tinggi terhadap penyandang disabilitas agar mereka tidak merasa 'berhak' untuk menerima penyesuaian semacam itu secara otomatis. Hal ini merusak sikap orang normal terhadap penyandang disabilitas dan berdampak kepada mencegah penyandang disabilitas untuk masuk ke fasilitas umum seperti teater, tempat film/bioskop dan pertunjukkan seni lainnya.

Di belahan dunia lainnya, Yayasan Palang Merah dan Bulan Sabit baru-baru ini mengembangkan pedoman untuk tempat penampungan dan permukiman penyandang disabilitas dalam keadaan darurat. Hal ini berkaitan untuk mengarusutamakan inklusivitas dalam keadaan bencana sekalipun. Yayasan Palang Merah dan Bulan Sabit Kamboja, pemuda dan relawan termasuk penyandang disabilitas berada di garis depan dalam kegiatan mereka untuk keselamatan di jalan raya. Mereka mendorong penyandang disabilitas muda untuk menjadi pendidik sebaya dalam kampanye untuk mencegah kecelakaan dan potensi kedisabilitasan yang mungkin terjadi. Begitupun Palang Merah Australia yaitu di Kota Quensland menyambut lebih dari 1.400 pencari kerja penyandang disabilitas menjadi produktif, memberi imbalan kerja setiap tahun agar penyandang disabilitas di wilayah tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami