Capacity building merupakan suatu proses untuk melakukan sesuatu, atau serangkaian kegiatan untuk melakukan perubahan multilevel pada diri individu, kelompok-kelompok, organisasi-organisasi, dan sistem-sistem guna memperkuat kemampuan penyesuaian individu dan organisasi dalam menghadapi perubahan lingkungan yang ada. Untuk itu peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui proses menganalisa lingkungannya, mengidentifikasi masalah-masalah organisasi, mencari kebutuhan-kebutuhan pengembangan diri dan organisasi, isu-isu dan peluang-peluang yang dapat diperankan organisasi, membuat formulasi strategi dalam proses mengatasi masalah-masalah, dan tentunya merancang sebuah rencana aksi agar bisa terkumpul data penataan sistem organisasi secara baik.

Pentingnya capacity building sehingga Kementerian sosial melakukan upaya-upaya terobosan baru dengan membuka kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dengan penyandang Disabilitas baik dari instansi atau organisasi yang ada di dalam dan luar negeri untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas, salah satunya adalah Kerjasama Kementerian Sosial dengan GIZ (DEUTSCHE GESELISCHAFT FOR INTERNATIONALE ZUSAMMENARBEIT). Sekilas informasi…. Indonesia adalah negara mitra prioritas dari kerjasama internasional Jerman. Kerjasama teknis dengan Indonesia dimulai pada tahun 1958 dan GIZ bekerja di Indonesia sejak tahun 1975 dan sejak saat itu GIZ mempunyai kantor di Jakarta.

Bentuk Kerjasama Kementerian Sosial dengan GIZ dilakukan dalam tahun ini adalah workshop peningkatan kapasitas di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial. Tujuan kegiatan workshop ini adalah meningkatkan kemampuan panti sosial dalam memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas rungu wicara. Salah satu panti sosial yang menjadi program workshop adalah Panti Sosial Bina Rungu Wicara Efata di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telah dilaksanakan pada tanggal 4s/d 5 April 2017.

Peserta worshop adalah para pegawai dilingkungan PSBRW Efata dan perwakilan dari Kementerian Sosial.

Narasumber kegiatan ini adalah :

Muchlas Soeseno dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Materi yang diajarkan:

a. Training Motivasi (Leadership & Collaboration).

Etos kerja adalah keyakinan dan samangat untuk mewujudkan keinginan dan harapan dalam perilaku kerja. Berbagai alasan seorang bekerja, diantaranya adalah: mendapatkan nafkah hidup, menabung untuk masa depan, membangun karir yang cemerlang, menyumbang karya nyata, ekspresi dan aktualisasi diri dan pengamdian sebuah idealisme.

Dalam mencari pekerjaan, para pencari kerja “bersaing “untuk mendapat pekerjaan yang layak contoh pencara kerja melalui bursa kerja, “bersaing dan saling menolong” contoh pencari kerja bersaing dengan dengan pencari kerja yang lain tetapi ketika ada yang butuh pulpen untuk menulis maka pencari kerja yang lain akan peminjamkan pulpennya, “Mereka berjuang” contoh : pencari kerja yang menunggu dari pagi-pagi sekali pintu sebuah perusahaan dibuka dan ada juga yang “mengorbankan hati nuraninya” contohnya: bekerja sebagai WTS.

Meskipun sulit mendapatkan pekerjaan tapi mengapa banyak yang tidak bersungguh-sungguh dalam bekerja? Adanya “persepsi yang keliru “ yang mengatakan kerja sebagai suatu “beban” contoh: cita-citanya jadi insinyur tapi diterima bekerja sebagai guru, adanya “sikap yang keliru “yaitu sikap yang “tidak menghargai pekerjaan” contoh: diteima menjadi pegawai negeri tapi gajinya kecil jadi dia tidak menghargai pekerjaannya, adanya “perilaku yang keliru” yaitu “bekerja dengan setengah hati” contoh karena di beri upah yang kecil maka malas dalam bekerja.

Ada penyakit yang merusak hati dalam bekerja yaitu: 5”NG”. Apa itu 5”NG”? 5”NG” yaitu: Ngeluh, Ngedumel, Ngegosip, Ngomel, Ngeyel. Ada cara jitu agar tidak mengeluh yaitu: “Ubah kosa kata negatif semantic menjadi negatif sintaktik.” contoh: “Saya sedang sial”…. Diubah menjadi….. “saya sedang tidak beruntung”

b. Training Communication Skill Training (Networking & Excellent services),

Berbagai tipe pemberi pelayanan yaitu:

  1. Good customer service, ialah memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang diharapkan.
  2. Bad customer service, ialah memberikan pelayanan kurang atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan klien
  3. Excellent customer service, ialah memberikan pe;ayanan lebih dari apa yang diharapkan klien

Customer ada (2) yaitu :

  1. Internal customer , adalah orang-orang yang berinteraksi dengan kita sehari-hari di dalam organisasi. Contohnya: bagian umum, bagian tata usaha, dll
  2. External customer, adalah orang-orang yang dating ke kantor kita untuk menggunakan jasa yang kita tawarkan atau yang bisa kita berikan. Customer ini membutuhkan ketepatan waktu dan pelayanan yang baik

Bagaimana menghadapi keluhan :

  1. Dengarkan dengan baik keluhan yang disampaikan dan pahami maksudnya
  2. Berilah empaty, rasakan seolah- oleh saudara berada di posisi customer
  3. Meminta maaf atas kesalahan dan ketidaknyamanan customer
  4. Ucapkan terimakasih kepada customer atas keluhan yang disampaikan
  5. Berilah solisi atas keluhan customer
  6. Jika anda tidak bisa atau tidak berwenang menjawabnya maka sampaikan ke atasan anda
  7. Jika anda tidak bisa memjawab keluhan pada saat itu juga maka catatlah nama, no telpon, dan e-mail untuk mengontak customer untuk memberikan pemecahan masalahnya.
  8. Follow Up sampai costomer puas terhadap jawaban masalahnya.

Ima dari Technical expert (Circle Indonesia) dan Diana Perwitasari (Person With Disability Advisor-GIZ)

Materi yang diajarkan: Tinjauan potensi PSBRW Efata berbasis asset (sumber daya manusia, program, fasilitas infrastruktur, jejaring eksternal, dst), SWOT adalah suatu teknik / alat untuk melihat / memetakan kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities) dan Ancaman / hambatan (Threats) dalam suatu organisasi atau proyek, baik proyek yang sedang berlangsung maupun dalam perencanaan proyek baru.

Strengths adalah karakter atau kondisi internal yang membantu untuk mencapai tujuan, Weaknesses adalah karakter yang “tidak cocok” dalam pencapaian tujuan, Opportunities adalah kondisi eksternal yang membantu mencapai tujuan, Threats adalah kondisi eksternal yang mencapai tujuan.

Hasil SWOT analysis digunakan untuk mentukan apakah tujuan realistis untuk dicapai. Jika tujuan tidak realistik untuk dicapai, perlu ditemukan tujuan lain (proses harus diulang) Atau perlu diupayakan (dengan menambah kekuatan dan mengurangi ancaman/hambatan) agar tujuan tercapai.

Materi yang diberikan oleh para narasumber diharapkan dapat membawa perubahan bagi pelaksana pelayanan yang ada di PSBRW Efata sehingga berdampak positif bagi kemajuan penyandang disabilitas rungu wicara dalam menjalankan proses pelayanan di PSBRW Efata dan agar eks kelayan PSBRW setelah keluar dari Panti dapat hidup mandiri di masyarakat dan bisa meningkatkan taraf kehidupannya.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami