Kesejahteraan adalah hak seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali termasuk Penyandang Disabilitas. Hal ini sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention on The Rights of Persons With Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) dan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas telah memberikan amanat untuk memenuhi dan melindungi hak-hak penyandang disabilitas.

Masih banyak penyandang disabilitas yang belum terpenuhi haknya karena berbagai hal termasuk hak penyandang disabilitas rungu, wicara dan rungu wicara, diantaranya masih adanya stigma negatif masyarakat dan kurangnya pemahaman keluarga tentang kebutuhan anggota keluarganya yang mengalami disabilitas, hal tersebut mengakibatkan kurangnya akses terhadap pelayanan. Demikian juga dengan penyandang disabilitas rungu, wicara dan rungu wicara yang memiliki gangguan alat dan fungsi pendengaran dan sangat berpengaruih pada kemampuan berbicara dan berbahasa. Gangguan-gangguan ini menyebabkan ketidakmampuan berkomunikasi yang menimbulkan hambatan pada perkembangan mental dan sosial. Masalah utama pada penyandang disabilitas sensorik rungu, wicara dan rungu wicara adalah mengalami kehilangan atau terganggunya fungsi pendengaran (disabilitas rungu) dan atau fungsi bicara (disabilitas wicara) atau terganggunya fungsi pendengaran dan fungsi bicara (disabilitas rungu wicara) yang disebabkan karena bawaan lahir, kecelakaan atau penyakit. Masalah yang dihadapi penyandang disabilitas rungu, wicara dan rungu wicara adalah kesulitas menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan dan keinginannya kepada orang lain melalui berbicara dan berkomunikasi sehingga kebutuhan mereka tidak dapat terpenuhi secara wajar. Ketidakmampuan dalam berkomunikasi tersebut seringkali berdampak luas, baik dari segi keterampilan bahasa, membaca, menulis maupun penyesuaian sosial, sehingga mempengaruhi seluruh aspek perkembangan dan kehidupannya, disamping sulit dipahami orang lain, penyandang disabilitas sensorik rungu, wicara dan rungu wicara juga sulit memahami orang lain, jadi tidak jarang mereka merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya.

Untuk memudahkan penyandang disabilitas rungu, wicara dan rungu wicara dalam memahami orang lain ketika berbicara, diperlukan alat bantu dengar sehingga dapat berkomunikasi dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya dengan mudah dengan menggunakan alat bantu dengar mereka dapat tumbuh dan berkembang serta hidup bermasyarakat secara optimal sebagai wujud pencapaian hak-haknya. Dalam rangka pemenuhan hak penyandang disabilitas dalam mendapatkan Alat Bantu Dengar, Kementerian Sosial RI c/q Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas bekerja sama dengan PT. ABDI sebagai mitra resmi Starkey Hearing Foundation di Indonesia. Pembagian ABD bagi PD Sensorik Rungu, Wicara dan Rungu Wicara sebagai bagian dari program “The World May Hear”, dan didukung oleh PGPKT (Penanggulangan Gangguan Pendengaran Dan Ketulian), serta tenaga relawan (pekerja sosial, TRC, Pramuka dan Lion Club).

Pada tahun 2015 telah memberikan Alat Bantu Dengar gratis bagi Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu wicara kepada 2.833 orang yang tersebar di 3 (tiga) kota, yaitu di Jakarta, Semarang dan Yogyakarta dan Tahun 2016 sebanyak 6.966 orang PD Sensorik Rungu Wicara di 8 (delapan) lokasi, yaitu: Jakarta sebanyak 1,308 orang, Bandung sebanyak 1.166 , Solo sebanyak 1.365, Makasar sebanyak 515 orang, Bali sebanyak 650 orang, Surabaya sebanyak 1.192 orang, Palembang sebanyak 460 orang dan Pontianak sebanyak 310 orang. Tahun 2017 direncanakan sebanyak 20.000 orang akan mendapatkan ABD di 10 Lokasi.

Proses mendapatkan ABD gratis ini sangatlah mudah. Masyarakat yang membutuhkan ABD hanya mendaftarkan diri melalui internet: http://starkeyhearingfoundation.or.id/pendaftaran/, masukkan data ke situs tersebut seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, nomor telpon, sekolah, dan NIK (Nomor Induk Kependudukan, dan lokasi tempat pengambilan ABD. Setelah mengisi pendaftaran adan menerima pesan bahwa anda sedah terregistrasi. Pihak Starkey akan memberikan pesan melalui SMS atau Facebook ke nomor pendaftar tentang kapan, dimana, dan apa yang harus dibawa ketika pemasangan ABD. Waktu Proses Pemasangan ABD ada beberapa tahap yang harus di lalui yaitu pemeriksaan awal, pada tahap ini calon penerima akan diperiksa telinganya, telinga mana yang akan dibersihkan terlebih dahulu, petugas pemeriksa akan memberi tanda (simbul) pada tangan. Tanda “ C “ artinya telinga bersih, tanda “W” artinya telinga sangat kotor sekali, dan tanda “QW” artinya telinga agak kotor. Pemberian tanda ini memudahkan bagi petugas yang akan membersihkan telinga.

Setelah proses pemeriksaan telinga, calon penerima menempati kursi yang sudah disediakan untuk proses registrasi. Petugas dari PT. ABDI akan melakukan registrasi meminta keterangan dari calon penerima dan menulisnya pada form dan kartu identitas. Data yang ditanyakan petugas seputar nama,alamat, tempat tanggal lahir, keluhannya apa dan sejak kapan keluhannya. Setelah proses registrasi calon penerima akan diarahkan kebagian pembersihan telinga. Telinga yang kotor dapat mengganggu pendengaran juga dan proses pembersihan telinga bertujuan agar ABD dapat berfungsi dengan baik.Apabila ada gangguan pendengaran yang serius dirujuk ke dokter THT untuk mendapatkan perawatan terlebih dahulu.

Proses berikutnya setelah pembersihan telinga adalah pemasangan ABD, calon penerima akan diberikan ABD yang sesuai dengan derajat ketuliannya dan bentuk telinganya. Proses ini sangat penting agar ABD yang diterima sesuai dengan kebutuhannya dan nyaman dipakainya. Setalah dipasang ABD ke calon penerima, petugas dari PGPKT dan SHF akan mengecek apakah calon penerima bisa mendengarkan suara dengan jelas. Ketika awal mula memakai ABD calon penerima biasanya merasa tidak enak karena yang semula tidak mendengar bunyi apa-apa, tapi setelah dipasang ABD banyak suara yang didengar. Biasanya anak-anak yang baru memakai ABD akan rewel, tapi itu proses yang wajar, peran orang tua atau pendampinglah yang harus menjelaskan bahwa itu proses yang harus dilaluinya agar lebih mendengar. Dengan seringnya mendengar bunyi atau suara, lama kelamaan anak akan dapat membedakan suara orang tuanya dengan yang lain.

Setelah dipasangkan ABD, calon penerima akan diarahkan kebagian konseling ABD, calon penerima akan diberikan penjelasan oleh petugas dari PT. ABDI atau tenaga sekarelawan yang telah diberi pelatihan. Dalam Konseling, akan dijelaskan tentang bagaimana cara memakai ABD, bagaimana cara perawatan ABD agar ABD berfungsi maksimal, apa saja yang harus diperhatikan dan yang harus dihindari ketika memakai ABD, dan apa saja peran pendamping agar memotivasi calon penerima agar selalu menggunakan ABD, dan lain-lain.

Setelah proses konseling, maka selesailah proses pemasangan ABD. Proses ini memakan waktu satu hari. Pagi-pagi sekali harus antri,walaupun pendaftarannya mulai jam 8 .00 WIB tapi sudah banyak yang antri dari pagi. Untuk itu bagi calon penerima lebih baik sarapan pagi dulu sebelum berangkat dan membawa makan dan minum sendiri , ya!

Tahap berikutnya adalah tahap Aftercare, tahap ini merupakan tahap pemeliharaan ABD. Di aftercare penerima ABD dapat menyampaikan keluhannya tentang keberfungsian ABD (misalnya ABD rusak karena kurang perawatannya, ABD hilang, atau baterainya habis).Pada aftercare, penerima ABD mendapatkan baterai ABD secara gratis seumur hidup dan kalau alatnya rusak diperbaiki atau ditukar/diganti dengan yang baru, tergantung kerusakannya.Penggantian Baterai atau service ABD serta ABD yang baru itupun didapat secara gratis, enak …kan? PT. ABDI akan menyampaikan rencana kegiatan pemasangan ABD dan aftercare melalui SMS atau facebook. Jadi HP jangan hilang atau ganti nomor, ya! karena hp digunakan untuk melihat informasi tentang pelaksanaan ABD.

Pemberian ABD gratis ini dilakukan setiap tahun. Bagi siapa saja yang membutuhkan dapat mendaftarkan diri ke situs starkey seperti tersebut diatas. Semoga dengan pemberian ABD dapat lebih banyak menolong saudara-saudara kita yang mempunyai hambatan dalam mendengar.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami