Penyandang disabilitas sensorik terdiri dari penyandang disabilitas netra dan penyandang disabilitas rungu wicara. Penyandang Disabilitas netra mempunyai hak dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights of Persons With Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas).

Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal 41 dinyatakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan dan/atau memfasilitasi pendidikan inklusif dan pendidikan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) wajib memfasilitasi Penyandang Disabilitas untuk mempelajari keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk kemandirian dan partisipasi penuh dalam menempuh pendidikan dan pengembangan sosial. Keterampilan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : point : b. keterampilan orientasi dan mobilitas;

Orientasi mobilitas adalah keterampilan atau kemampuan yang harus dimiliki oleh penyandang disabilitas netra untuk mengetahui dan menyadari keadaan atau posisi dirinya dalam suatu llingkungan dan hubungannya dengan objek-objek lain yang ada dilingkungan sekitarnya. Mobilitas merujuk pada kemampuan penyandang disabilitas netra untuk bergerak atau berpindah tempat dari satu posi ke posisi lain secara mudah, cepat, tepat dan selamat.

Keterampilan orientasi mobilitas sangat dibutuhkan oleh penyandang disabilitas sensorik netra agar penyandang disabilitas sensorik netra dapat mengakses lingkungannya sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kementerian Sosial melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas berupaya memberikan pelayanan rehabilitasi sosial untuk peningkatan usaha kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas sensorik netra dalam meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya dalam pelaksanaan orientasi mobilitas dan untuk memenuhi kebutuhan kelangkaan petugas orientasi mobilitas dalam membantu penyandang disabilitas netra untuk dapat mengakses lingkungannya, untuk itu dilaksanakan Pemantapan Petugas Orientasi Mobilitas di UPT/UPTD/LKS bidang sensorik yang bertujuan sebagai upaya untuk meningkatkan Keterampilan Petugas Orientasi Mobilitas di UPT/UPTD/LKS bidang sensorik dalam mempraktekan keterampilannya dalam membantu Penyandang Disabilitas Netra di lembaga masing-masing. Kegiatan pemantapan telah dilaksanakan selama 3 (tiga) hari yaitu tanggal 03 s.d 05 Mei 2017 bertempat di Hotel Permata , jalan Padjajaran, Bogor, dengan menghardirkan 4 (empat) orang narasumber yang berkompeten dibidangnya:

Kanya Eka Santi (Sekretaris Ditjen Rehsos)

Materi yang disampaikan tentang: Pemahaman mengenai pengertian orientasi mobilitas, sejak kapan harus dilakukan latihan OM, focus OM, keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh penyandang disabilitas dan petugas OM,disamping materi pokok diatas, Sekditjen Rehsos juga menyampaikan tentang:

  1. Tantangan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas yang diamanahkann UU No 8 Tahun 2016 membutuhkan dukungan seluruh sektor, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat pada umumnya.
  2. Supaya dapat segera diimplementasikan , diperlukan penyusunan regulasi turunan undang-undang, baik berupa PP, Perpres maupun permen teknis yang diamanatkan ke berbagai sektor sesegera mungkin (PP perlindungan sosial, Perpres Komisi Nasional Disabilitas dan Permensos Kartu Penyandang Disabilitas) dan mendorong lahirnya peraturan daerah terkait penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas
  3. Adanya UU nor 23 Tahun 2014 tentang otonomi daerah yang membagi kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, salahsatunya memberikan konsekuensi pada pelaksanaan layanan rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di daerah sehingga perlu disegerakan menyusun kebijakan2 di tataran pelaksanaan teknis berupa Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang akan menjadi acuan pelaksanaan di daerah .
  4. Program kegiatan penyandang disabilitas yang menjadi tugas fungsi Kemensos mempunyai target prioritas nasional pemenuhan alat bantu, literasi khusus dan akses hak dasar serta Indikator Kinerja Utama terkait kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar, pemenuhan hak dasar dan perwujudan kemandirian penyandang dsabilitas yang harus diupayakan bersamaoleh pemerintah pusat dan daerah dengan dukungan berbagai sektor terkait, swsata, dunia usaha dan masyarakat.
  5. Perlu dilakukan kesepakatan dalam penggunaan acuan sumber data penyandang disabilitas antar sektor sekaligus perlu melakukan pembenahan masalah data by name by address populasi dan by name by address data penyandang disabilitas yang sudah dilayani
  6. Data layanan yang sudah dilakukan oleh lembaga hendaknya dapat didokumentasikan dengan baik, sebagai pertanggungjawaban kinerja sekaligus untuk bahan evaluasi dan perencanaan program/kegiatan layanan selanjutnya.

Iyehezkiel dari Pertuni.

Materi yang disampaikan: Pentingnya penguasaan teknik-teknik dasar orientasi mobilitas dalam melakukan pendampingan terhadap penyadang disabilitas netra dalam mengatasi hambatan mobilitasnya.

Penyandang disabilitas netra memiliki hambatan yang terdiri dari:

  1. Hambatan mobilitas, seperti dalam melakukan kontak pertama, cara memegang saat akan menuntun, melalui jalan sempit, membuka dan menutup pintu, melewati tangga, duduk di kursi dan menaiki mobil.
  2. Hambatan Arsitektural, yang meliputi akses didalam bangunan gedung, jalan, infrastruktur, seperti lift tanpa audio atau Braille untuk menunnjukkan nomor lantai tujuan.
  3. Hambatan media tulis-baca, seperti Braille, rekaman audio, dan “komputer bicara”, Screen reader: Jaws, NVDA, dsb.

Hambatan-hambatan tersebut mengakibatkan terhambatnya interaksi penyandang disabilitas dengan lingkungan sekitarnya, sehingga mempengaruhi cara pandang masyarakat mengenai disabilitas.

Adi Prasetyo dari Mimi Institute

Materi Karakteristik dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas netra serta Orientasi Mobilitas dengan dan tanpa tongkat dalam kegiatan keseharian melalui simulasi dan parktek dalam membimbing penyandang disabilitas.

Mimi Lusli (Ketua Mimi Institute)

Materi yang disampaikan: Tantangan warga disabilitas netra dalam penerapan orientasi mobilitas, Memahami dan mengurangi stigma serta memandirikan disabilitas netra.

Karakter dan ciri khusus penyandang disabilitas netra, seperti bentuk mata, penyebab tuna netra dari kerusakan atau kecelakaan, menggunakan kaca mata.

Cara mendidik dan peran orang tua dalam menerima anak yang mengalami penyandang disabilitas, Orang tua harus membantu mengenali tubuhnya dan bagaimana tubuhnya bisa bergerak, membantu mengembangkan indra perasaan dan perabaannya, mengembangkan indra penciuman membantu untuk berbicara, membantu untuk dapat merawat dirinya sendiri dan mengenalkan pada situasi lingkungan disekitarnya. Petugas Rehabilitasi Sosial, keluarga dan Masyarakat harus memandang penyandang disabilitas sebagai bagian dari keragaman, dengan cara hidup yang berbeda.


Peserta pertemuan berjumlah 40 orang yang berasal dari UPT Kemensos, UPTD, Perwakilan Orsos Disabilitas Sensorik Netra, LKS dan Direktorat RSPD.

Hasil dari pertemuan ini adalah: Tersedianya petugas Orientasi Mobilitas di UPT/UPTD/LKS bidang sensorik, Meningkatnya kemampuan dan pemahaman para petugas dalam memberikan Rehabilitasi Sosial khususnya keterampilan orientasi mobilitas untuk peningkatan pelayanan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas netra di lembaga dan meningkatnya keterampilan penyandang disabilitas netra dalam mengakses lingkungannya sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya dalam kehidupan sehari-hari.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami