Berbicara tentang penyandang disabilitas mental, apa yang terpikirkan oleh kita? Pada umumnya orang akan bilang “gila”, “kotor”, “ kumal”, “tidak pernah mandi”, “ditakuti orang”, “takut dipukul”. Semuanya hal negatif bukan? Itulah stigma masyarakat yang masih sangat kental saat ini. Padahal tahukah kita jika penyandang disabilitas mental itu tidak 100% seperti stigma-stigma tadi? Kenapa saya bilang tidak 100%? Ya, karena mereka bisa sembuh lho. Fungsi sosial mereka bisa dipulihkan kembali, asal pihak-pihak terkait mau berusaha dan bekerja sama. Siapakah pihak terkait itu? Mereka adalah penyandang disabilitas mental itu sendiri, keluarganya, dan masyarakat.

Secara awam, yang disebut penyandang disabilitas mental adalah seseorang yang mengalami gangguan jiwa yang tidak diberi hak untuk berpartisipasi di dalam keluarga dan masyarakat karena dianggap sudah tidak bisa apa-apa. Gangguan jiwa yang dialami oleh seseorang akan membuat fungsi otaknya menurun, sehingga untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari mengalami hambatan. Gangguan jiwa adalah penyakit sama seperti penyakit diabetes, kolesterol, dan lain-lain. Penanganan gangguan jiwa adalah dengan medis, bukan ke dukun atau “orang pintar” seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat selama ini. Gangguan jiwa bukan penyakit menular atau kutukan.

Penanganan penyandang disabilitas mental dilaksanakan secara medis dan sosial secara bersama. Pada kondisi akut, kesehatan memegang peranan lebih besar disbanding sosial, pada kondisi stabilisasi peran sosial dan kesehatan sama besar, pada kondisi pemeliharaan peran sosial lebih besar disbanding kesehatan. Sosial dan kesehatan harus berjalan bersama-sama dalam penanganan penyandang disabilitas mental, karena yang perlu ditangani tidak hanya orang yang mengalami gangguan jiwa tetapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Ada banyak jenis gangguan jiwa, sehingga untuk pengobatannya pun harus disesuaikan dengan jenis dan keparahan gangguan jiwa tersebut. Oleh karena itu, orang non medis tidak bisa mengira-ngira obat dan dosis yang harus diberikan kepada di penderita.

Jika di sekitar kita ada orang yang mengalami gangguan jiwa, harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas. Jika memang puskesmas tidak dapat menangani, maka akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lain yang lebih memadai. Setelah dinyatakan stabil orang psikiater, maka orang yang mengalami gangguan jiwa akan kembali ke keluarga. Namun begitu, penanganan gangguan jiwa tidaklah langsung selesai seperti pengobatan sakit kepala. Penanganan gangguan jiwa masih berlanjut dan membutuhkan waktu, semangat dan kesabaran.

Setelah keluar dari fasilitas kesehatan, penyandang masih harus terus didukung agar mengalami pemulihan yang lebih tinggi. Orang dengan gangguan jiwa akan mengalami penurunan fungsi, sehingga perlu dipulihkan kembali, seperti fungsi sosial. Oleh karena itu, setelah ditangani secara medis, harus tetap dilanjutkan dengan rehabilitasi sosialnya. Rehabilitasi sosial bisa dilakukan di dalam panti mau pun di dalam keluarga/ masyarakat (sering disebut rehabilitasi berbasis masyarakat). Rehabilitasi berbasis masyarakat bisa dilakukan melalui Unit Informasi dan Layanan Sosial (UILS) dan Pos Rehabilitasi Sosial.

Butuh Informasi Lebih Lanjut?

Kontak Kami